BPM NTB KEMBANGKAN MANAJEMEN INFORMASI INVESTASI ONLINE

          Mataram, 23/12 (ANTARA) - Badan Penanaman Modal (BPM) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengembangkan sistem manajemen informasi investasi elektronik atau online untuk lebih memudahkan calon investor mendapat informasi awal mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan penanaman modal di daerah ini.

         Kepala BPM NTB, Jalal di Mataram, Selasa mengatakan, semua informasi mengenai penanaman modal, seperti potensi investasi, prosedur perizinan, pengawasan kinerja investasi dan regulasi mengenai penanaman modal akan dikembangkan dengan sistem elektronik.

         "Artinya para calon investor yang berminat untuk menanamkan modalnya di NTB bisa memperoleh infornasi awal secara online dengan cara mengakses website resmi BPM, sehingga sebelum datang mereka bisa mendapatkan informasi awal," katanya.

         Menurut dia, sistem informasi investasi ini akan di-link-kan dengan kabupaten kota yang ada di NTB, sehingga calon investor yang mengakses situs BPM sekaligus akan mendapatkan informasi mengenai data investasi yang ada di kabupaten/kota.

         "Dengan cara ini kami mengharapkan para investor dalan luar negeri tertarik untuk menanamkan modalnya di NTB," kata Jalal didampingi Kepala Bidang (Kabid) Promosi BPM NTB, Manggaukang Raba.

         Dalam kaitan itu Gubernur NTB, KH M Zainul Majdi menginstruksikan pejabat di daerahnya untuk mempermudah proses penanaman modal guna menarik minat investor menanamkan modalnya di daerah ini.   

    Instruksi tersebut erat kaitannya dengan perkembangan investasi di wilayah NTB dalam kurun waktu lima tahun terakhir yang kurang menggembirakan karena cukup banyak investor yang membatalkan rencana investasinya.

         Menurut data BPM NTB, kinerja investasi di NTB dalam lima tahun terakhir (2003-2007) masih masuk kategori rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain dalam wilayah investasi IV (Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat).

         NTB menempati urutan ke-5 setelah Jawa Timur, Bali, Papua dan NTT dengan prosentase investasi 4,13 persen untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan 3,9 persen untuk Penanaman Modal Asing (PMA).

         BPM NTB juga melaporkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun itu hanya lima investor PMDN yang merealisasikan rencana investasinya dengan nilai proyek Rp101,4 miliar atau rata-rata satu proyek pertahun dengan nilai Rp20,28 miliar per tahun.

         Sedangkan proyek investasi PMA hanya 22 proyek atau rata-rata 4,4 proyek per tahun dengan nilai investasi sebesar 15,9 juta dolar AS atau rata-rata 3,18 juta dolar AS per tahun.

         Selain itu, dari 102 investor PMDN yang akan berinvestasi hanya 74 investor yang merealisasikan rencananya dan dari 198 investor yang berminat untuk berinvestasi dan telah mengantongi izin hanya 77 yang terealisasi.

         Berbagai kendala investasi di NTB antara lain masalah keamanan (sengketa tanah dan lahan produksi), kepastian hukum (peraturan yang tidak konsisten dan sering berubah-ubah) serta masalah-masalah yang berkaitan kewenangan otonomi daerah.

        Dalam kaitan itu gubernur juga meminta pimpinan instansi teknis terkait agar lebih agresif mempromosikan potensi investasi dan menindaklanjutinya secara transparan.(*)